Postingan

Al Absyar

Kami baru menyepakati nama itu beberapa hari yang lalu. Ar Raudah sesuai nama masjid tempat di mana kami tinggal? Tidak. Nama itu telah dipakai oleh grup yang sudah punya nama besar karena gelar juara yang familiar dengan mereka. Belum genap lima bulan usia kami. Grup ini berawal dari kepulangan saya ke kampung halaman setelah lama berada di kampung orang. Sekitar akhir bulan di tahun lalu, salah seorang saudara saya dan guru ngaji kampung, Lek Jayus dan Pak Mad yang (masih) peduli dengan perkembangan anak muda di kampung datang bertamu. Tidak saya sangka secepat itu saya menemukan kehidupan baru di sini. Beliau berdua menghendaki saya untuk mengarahkan remaja di kampung yang bisa dibimbing. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan grup shalawat. Mungkin karena di kota ini atmosfer Hadrah Al Banjari semakin membumi. Kata sepakat yang kami ucapkan sore itu membuat kami harus berusaha mengumpulkan dana yang tentu tidak sedikit jumlahnya. Dari saat itu keajaiban seolah...

Malam ini

Malam ini. Sungguh rasanya pikiran dan badan ini seperti ingin menyerah merasakan segalanya berkumpul, bermuara, membaur menjadi satu. Aku jenuh! Malam ini, pekerjaan semakin mengerucut menjadi sulit. Awan bulan ini, hanya dalam waktu 7 hari aku harus menyelesaikan verkesdik, mandatory, maupun pendataan kpm temuan non eligible . Mustahil! Tapi ini perintah dari atasan yang hanya mengetahui distribusi uang kami lancar dan menganggap semuanya berjalan mulus sesuai tupoksi masing-masing distrik. Mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu? Kamis kemarin aku hanya mampu menemui 1 orang kepsek di pelosok atas, sedangkan yang lain tidak ada di tempat. Kamis juga data mandatory sudah terkirim rapi ke operator, tapi malam ini berkas itu kembali karena permintaan perubahan format. Pendataan temuan non elegible yang katanya masih belum waktunya pun begitu. Malam ini ditekan untuk segera mengumpulkan list detailnya. Aku jenuh! Pikiran stres bersama dengan kondisi badan ya...

Sekali lagi, kejutan.

Hari ini, sidang final telah mengesahkan status kakak saya. Senin, 3 April 2017. Baru kali ini saya berperan menjadi saksi di persidangan nyata. Hari ini saya harus pulang kerja lebih pagi dan meninggalkan beberapa deadline yang sudah saya rancang   kemarin. Kakak sudah berganti status. Ia sekarang resmi menjadi janda. Ia menyandang status yang sudah pasti tidak ingin dimiliki oleh perempuan normal umumnya. Dulu saya sudah melakukan segalanya agar semuanya menjadi baik-baik saja, hingga akhirnya saya tidak mampu lagi berusaha. Mereka sudah tidak bisa lagi disatukan. Mereka sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Tangis muncul secara tiba-tiba saat pertama kali saya menerima telfon bahwa kakak sudah tidak lagi menghendaki hubungannya. Saya masih ingat saat itu. Saya sampai tidak ikut bercengkrama mendengarkan pelajaran yang rutin diberikan oleh Kyai karena malu dengan kejutan berikutnya yang diberikan Allah di kehidupan saya. Saya benar-benar terpukul dengan apa yan...

Berbeda

Gambar
Kemarin saya mendapatkan sesuatu yang kurang menyenangkan terkait dengan penyamarataan sebuah institusi perkuliahan oleh oknum tertentu. Oknum tersebut menilai bahwa almamater tidaklah penting dan berpengaruh terhadap status seorang mahasiswa. Semua kampus sama, tergantung kepada bagaimana mahasiswa masing-masing. Ia juga mengatakan bahwa kesuksesan itu tentang bagaimana seseorang yang menjalani, bukan pada almamater apa yang ia gunakan. Sejujurnya saya mengatakan bahwa pernyataan tersebut salah besar dan dapat memicu sebuah keperihan bagi yang mendengarnya.   Oknum yang saya hormati.   Pertama-tama marilah kita melihat status kita. Apakah Anda termasuk barisan sakit hati masa lalu, atau tidak? Apakah Anda pernah merasakan kecewa atas kegagalan apa tidak?   Begini. Bagi saya, almamater, kualifikasi tenaga pendidik, hingga akreditasi institusi sebuah kampus itu sangatlah penting. Kita? Kita siapa? Mahasiswa masing-masing? Anda tidak bisa bicara seenaknya. Kualitas...

Kita Sudah Merdeka

Beberapa waktu yang lalu saya kembali melakukan tanya jawab dengan seseorang tentang apa itu arti merdeka. Saya sendiri termasuk orang yang selalu melabelkan kata merdeka, terutama ketika momen Agustusan seperti bulan ini. Seperti biasa, selalu ada orang yang panas kupingnya   mendengar ataupun membaca kata-kata merdeka dari saya. Ia melontarkan pertanyaan yang memang masuk akal, menjebak, dan rumit.   "Merdeka? Memangnya Indonesia sudah merdeka? Kemiskinan masih merajalela, korupsi masih menjamur, jual beli jabatan semakin masif, pendidikan semakin terbengkalai, banyak masyarakat kelaparan dan sulit mendapat layanan kesehatan, kamu bilang Indonesia sudah merdeka? Merdeka? Siapa yang merdeka, sedangkan kemarin ada rakyat yang menikmati kemerdekaan dengan menangis pasca TNI menyerang kampung mereka? Apakah itu merdeka?"   Saya tidak bermaksud untuk sok  nasionalis atau hal-hal musiman lainnya. Saya tidak bermaksud untuk membela diri. Ini negara saya juga. Negar...