TENTANG USWATUN HASANAH
Saya masih ingat dengan
apa yang Abah Yai Anwar Zahid katakan. Beliau mengungkapkan bahwa Indonesia
merupakan negara muslim satu-satunya di dunia yang gemar mengadakan kegiatan
pengajian, selametan, Mau'idhoh Hasanah, dan sejenisnya. Di
kegiatan nikahan, khitanan, tahlil 100 atau 1000 hari, pindah rumah, selamatan
7 bulanan, selapanan, dan hampir
semua kegiatan tradisional masyarakat yang terintegrasi dengan kegiatan
keagamaan selalu diisi dengan ceramah agama oleh da'i. Di dalam kegiatan tersebut selalu terdapat anjuran dan
penyadaran agama untuk membimbing para pengikutnya agar berbuat sesuai dengan
koridor hukum religiusitas Islam. Tidak bisa dihindari kalau kita sebagai
bagian dari Bangsa Indonesia harus bersyukur atas karunia tersebut. Bagi saya
pribadi, kegiatan selametan itulah
bentuk nyata dari perwujudan Sila ke-3 ideologi kita. Karena kegiatan kumpul-kumpul tersebut kerukunan
masyarakat tetap terawat walaupun zaman layar sentuh menggunakan kaki akan
segera terjadi.
Abah Yai Anwar Zahid
juga ikut prihatin. Dibalik semakin banyaknya kegiatan ceramah agama yang terus
menjamur, masyarakat mulai kehilangan teladan-teladan nyata di sekitar mereka. Bisa
dikatakan, konsep yang saat ini terjadi adalah meluasnya mau'idhoh hasanah dan semakin memudarnya uswatun hasanah. Melalui kegiatan mau'idhoh hasanahnya, Abah mengajak umat untuk belajar menjadi sosok
yang uswatun hasanah.
Saya semakin sadar
bahwa apa yang dikatakan Abah benar adanya. Hampir setiap hari saya temukan di
sekitar saya para jagoan ngoceh, ndalil, pendebat, orator, dan
aktor-aktor sejenis menghiasi bumi yang katanya semakin sempit ini. Semuanya
memiliki retorika dan teori yang begitu kaya sehingga mampu membawa para lawan
bicaranya terbawa arus deras susunan kata-kata yang dibawanya. Apa yang
disampaikan mereka sebagian besar benar, sebagian yang lain mendekati kebenaran
atau bahkan menjauh dari kata benar.
Kami kehilangan sosok uswatun hasanah. Kami mulai kehilangan
sosok teladan yang baik. Tokoh-tokoh yang saya idolakan lambat laun mulai
terseret kasus-kasus yang sebenarnya adalah hal yang dulu ia tentang
habis-habisan. Ustad A misalnya. Saat ceramah beliau begitu menggebu-gebu,
namun selang beberapa bulan ia terseret kasus dari apa yang pernah beliau
sampaikan. Ustad B, ustad C, hingga ustad Z yang sering nongol di TV misalnya. Semoga apa yang menimpa ustad-ustad kondang di TV selama ini
memberikan pelajaran bagi ustad-ustad berikutnya. Semoga televisi bukan menjadi
alat komersialisasi agama.
Mencari sosok uswatun hasanah pada era saat ini memang
sangat sulit, apalagi iming-iming
rupiah mulai mengalahkan kesucian ayat-ayat Ilahi Rabbi. Sosok paling uswatun hasanah di muka bumi sebenarnya
telah ada sejak berabad-abad yang lalu saat muncul ayat .......fii Rasulillahi Uswatun hasanah..... Sayangnya tidak banyak
yang mau mengilhaminya atau telat menyadarinya, termasuk seseorang bernama
Tara.
Sosok teladan yang
sudah melekat kepada Baginda Rasul sebenarnya telah cukup untuk kita jadikan
sebagai contoh. Dengan berpacu kepada Rasulullah, menjadi uswatun hasanah sebenarnya tidak perlu menunggu kita menjadi dewasa
ataupun tua sebelum mati. Di manapun tempatnya dan kapanpun waktunya, kita bisa
menjadi sosok tersebut. Semangat untuk belajar menjadi lebih baik dari periode
sebelumnya dan mengajak orang-orang di sekitar untuk melangkah baik bersama
adalah kunci utama.
Saya yang kebetulan
terlambat sadar mulai menata diri dari awal.
Saya akhirnya mengakui
bahwa apa yang dilakukan oleh Gus Ahmad sekeluarga ternyata bukan hal yang
sia-sia. Dulu saya berfikir betapa tidak masuk akalnya keluarga Kyai mendirikan
sebuah stasiun radio di tengah kampung yang terkenal dengan para pemabuknya.
Keluarga Kyai rela nyambangi rutin
stasiun radionya meskipun letaknya di kampung yang cukup jauh dari kediaman
Kyai. Saya hanya melihat satu sisi bahwa keluarga nyentrik tersebut mendirikan
stasiun radio hanya untuk menyalurkan hobi alamiah mereka, yaitu bernyanyi.
Saya heran mengapa orang mabuk kok malah
dihibur dengan karaoke di radio. Lucunya, dengan heran saya pun sering ikut
mengisi jadwal nyanyi di radio
tersebut ketika kegiatan rutinan selesai. Lambat laun saya mulai menyadari
bahwa apa yang dilakukan oleh Pak Kyai adalah bentuk manifestasi dakwah
sesungguhnya. Beliau tidak melulu ceramah ataupun ndalil ngalor ngidul untuk membuat para pemabuk sadar. Dengan
kehadiran rutin beliau di kampung pemabuk tersebut, lambat laun para pemabuk
menjadi sungkan untuk tidak ikut nimbrung sekadar mencium tangan Kyai.
Dari situlah akhirnya kegiatan mabuk-mabukan
mulai hilang. Disitulah dakwah dan do'a masuk secara perlahan. Sungguh luar
biasa apa yang Pak Kyai sekeluarga lakukan. Dilihat dari kacamata polos, mereka
tidak melakukan apa-apa, justru melakukan hal yang tidak berguna. Namun jika
dilihat dari segi hakikat, Keluarga Kyai telah sukses mengentaskan kasus yang sering
diceramahkan oleh ustad-ustad pada umumnya.
Anak Pak Kyai, Gus
Ahmad pun sekarang melakukan hal serupa. Ia yang sepantaran dengan saya memulai pengalaman dakwah secara samar di
kampung tempat tinggalnya. Selama satu minggu lebih saat di Banyuwangi kemarin,
saya banyak didongengi olehnya. Gus Ahmad mulai merintis grup sepakbola futsal
dengan mengajak pemuda di kampungnya yang terkenal suka mabuk dan gelutnya. Saat
ini saya juga ikut memantau kegiatan di sana. Saat ini, grup futsal tersebut
berjalan dengan baik bahkan telah berani masuk ke level kompetisi turnamen
regional. Abdi mah naon atuh? Hanya sekadar latihan rutin dan level sparing. Gus Ahmad mungkin tidak pernah
memikirkan istilah dakwah itu sendiri. Ia mungkin hanya berniat mengajak pemuda
sekitar untuk menyalurkan hobi, tetapi dibalik itu semua Gus Ahmad tengah
berusaha mengentaskan pemuda di sana dari kegiatan-kegiatan negatif. Saya yang
menyadari, bahwa Gus Ahmad telah mengarahkan pemuda di sana untuk mengarahka
energi pemuda yang menggebu-gebu ke ranah positif salah satunya di bidang
olahraga.
Berkaca dari keluarga
Pak Kyai yang telah memasukkan saya ke dalam daftar anggota keluarga besarnya,
di sini saya juga mulai menerapkan metode tersebut.
Al Absyar adalah salah
satu kegiatan yang harus saya ajegkan
keberlangsungannya. Saya harus berjuang mengarahkan remaja di sini untuk
melakukan kegiatan positif di bidang tabuh-menabuh hadrah Al Banjari. Cukup
sudah periode pembiaran remaja di kampung ini. Sejak saya kecil tidak ada sosok
teladan yang mau dan mampu mengarahkan generasi pemuda di kampung sintru ini. Dengan Al Absyar saya
belajar, menyalurkan hobi sejak kecil sekaligus belajar berdakwah kecil-kecilan
melalui kegiatan nyata.
Saat ini konsentrasi
saya ada pada pekerjaan dan anak-anak Al Absyar. Anak-anak Al Absyar perlu
mendapat arahan yang benar. Mereka tidak boleh lagi berkeliaran tidak jelas di
jalan. Mereka tidak boleh terpengaruh oleh pemuda kampung sebelah yang mulai
mentradisikan kebiasaan minum-minuman. Dengan mengajak dan menyeret mereka ke
kegiatan-kegiatan baik, saya optimis mereka akan menjadi sosok-sosok uswatun hasanah yang dapat diandalkan
setelah saya tidak di kampung ini lagi.
Kesulitan bagi saya
adalah menerapkan ilmu-ilmu yang selama ini telah saya peroleh. Saya harus
berkomitmen untuk mengajarkan dan mengarahkan mereka, karena hal tersebut
adalah bentuk pertanggungjawaban dari hakikat ilmu berdasarkan apa yang telah
diatur oleh agama saya. Saya harus sanggup memilih jalan tersebut dan harus
kuat meninggalkan apa yang tidak sesuai lagi dengan perjalanan ini.
Belajar untuk menjadi
sosok yang uswatun hasanah itu sulit,
tetapi tidak ada alasan untuk tidak belajar menjadi itu. Mengubah kebiasaan
yang kurang dan tidak baik itu sangat sulit, terlebih saya bukanlah berasal
dari orang baik-baik. Saya tetap optimis perubahan tersebut sangat mungkin
untuk dilakukan di tengah keraguan banyak pihak yang memustahilkan apa yang
sedang saya lakukan.
Komentar
Posting Komentar