Sekali lagi, kejutan.



Hari ini, sidang final telah mengesahkan status kakak saya.


Senin, 3 April 2017. Baru kali ini saya berperan menjadi saksi di persidangan nyata. Hari ini saya harus pulang kerja lebih pagi dan meninggalkan beberapa deadline yang sudah saya rancang  kemarin.

Kakak sudah berganti status. Ia sekarang resmi menjadi janda. Ia menyandang status yang sudah pasti tidak ingin dimiliki oleh perempuan normal umumnya.

Dulu saya sudah melakukan segalanya agar semuanya menjadi baik-baik saja, hingga akhirnya saya tidak mampu lagi berusaha. Mereka sudah tidak bisa lagi disatukan. Mereka sudah tidak bisa lagi diperbaiki.

Tangis muncul secara tiba-tiba saat pertama kali saya menerima telfon bahwa kakak sudah tidak lagi menghendaki hubungannya. Saya masih ingat saat itu. Saya sampai tidak ikut bercengkrama mendengarkan pelajaran yang rutin diberikan oleh Kyai karena malu dengan kejutan berikutnya yang diberikan Allah di kehidupan saya. Saya benar-benar terpukul dengan apa yang menimpa keluarga kakak. Menangis. Sudah pasti. Sebagai lelaki normal yang melihat rumah tangga saudara kandungnya bubar adalah alasan kuat mengapa hal itu bisa terjadi. Terlebih lagi, saya berperan sebagai wali nikah ketika proses sakral itu dilaksanakan. Apalagi, saat itu bayang wajah kedua almarhum orang tua kami menampakkan diri tepat di hadapan saya saat mereka telah ditetapkan sebagai suami istri. Mereka seolah ikut berbahagia melihat satu anak mereka telah diikat oleh hubungan resmi.

Saya memang mengetahui bahwa kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan seperti biasanya. Sudah sering saya melakukan langkah-langkah persuasif agar keduanya bisa berbenah diri, hingga akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk tidak tinggal lagi dengan mereka pasca lulus kuliah.

Hari ini. Tidak ada air mata yang keluar ketika saya disumpah oleh hakim hingga memberikan kesaksian atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Mata mungkin sudah terlatih untuk menerima apa yang telah terjadi, tetapi hati tidak. Hati saya sakit melihat kakak seperti ini. Sudah hampir 17 tahun kami berjuang menerima, menjalani dan memahami arti hidup. Sekarang, cobaan itu kembali harus berpihak di kehidupan kami. Kami kembali hidup berdua lagi.

Pak Kyai benar. Beliau berpesan bahwa saya harus pulang untuk menjaga kakek dan kakak yang membutuhkan kehadiran saya. Saya baru memahami pesan beliau setelah peristiwa hari ini. Mungkin hal ini juga menjadi pelengkap alasan mengapa saya harus pulang dan menata hidup kembali di Banyuwangi.

Kenyataan kembali menyuruh saya untuk lebih banyak belajar lagi.

Saya harus belajar. Kejutan hari ini memerintahkan saya untuk itu. Saya tidak ingin seperti apa yang telah menimpa kakak. Saya berhak untuk lebih baik. Saya memiliki hak untuk berumah tangga dengan damai tanpa ada kata pisah. Saya harus terus belajar sebelum semuanya benar-benar siap. Saya harus berbenah diri, menghapus semua tingkah laku buruk dan berusaha menumbuhkan bibit-bibit baru kebaikan. Saya sadar semua orang memiliki potensi untuk berpisah ketika mereka telah memutuskan untuk berumah tangga, tetapi saya tidak ingin perpisahan itu terjadi seperti apa yang menimpa kakak. Saya hanya menginginkan perpisahan karena takdir Ilahi, yaitu kematian.

Besar harapan saya agar kakak akan menemukan kehidupan barunya. Tentu, kehidupan yang lebih baik dan dapat merubah kebiasaan-kebiasaan kakak yang kurang baik karena produk dari mantan suaminya. Saya berharap agar ia semakin dewasa setelah kejutan ini. Tentunya, harapan terbesar saya adalah kakak dapat menemukan calon imam pengganti yang lebih baik dan dapat meneruskan nasab keluarga kami.

Dengan jelasnya status kakak saya secara konstitusional, maka salah satu beban yang menghiasi hari-hari saya juga berkurang. Kini, saya perlu untuk belajar mengambil semua hikmah dan perlahan membimbing kakak saya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Semoga Allah akan memberikan hal-hal indah setelah belasan tahun mendewasakan kami dengan peristiwa-peristiwa yang telah tertulis dalam skenarioNya. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILADNYA PANCASILA

Aku harus bagaimana?

Antara Sombong, Rendah Hati, Jujur, dan Munafik