Ayo bangkit
Seperti hari-hari yang telah aku lalui, hari ini Kamis, 30 Oktober 2013 bu kos kembali memberiku menu berbuka. Aku kira beliau sudah tidak perduli lagi dengan satu-satunya anak kos muslimnya. Senin kemarin absen.hehe...Padahal sebelum pulang kampung kemarin, setiap senin dan kamis aku tidak perlu kebingungan mencari menu buka.
Bu kos adalah salah satu kehidupanku di kota rantau ini. Sikap bu kos semakin berubah setelah aku mencoba mengabdikan diri dengan total sebagai anak kosnya. Total dalam membantu beliau membersihkan kamar mandi yang biasanya terlihat jorok. Terlebih lagi kamar mandi yang hanya ada satu ruang itu dipakai oleh lebih dari tujuh orang yang berasal dari etnis yang berbeda-beda.
Dan totalitas semuanya, sebagai anak kos yang baik tentunya.
Selain bu kos, aku masih memiliki teman-teman dari berbagai wilayah yang sangat ramah. Berada di kos ini aku dapat berteman dengan orang dari Jogja, Flores, Ternate, Bali, hingga Sumba. Karakter mereka berbeda-beda, mulai dari pemalu hingga yang suka blak-blakan.
Mereka telah menjadi alarm bagiku yang selalu setia mengingatkanku untuk beribadah. Kalian tahu, mereka berbeda agama denganku. Mungkin mereka tidak belajar secara mendalam apa yang disebut dengan toleransi, tetapi mereka mampu menerapkannya dalam tindak nyata secara sempurna.
Hari ini aku kembali memperoleh atmosfer itu. Aku memperoleh lagi semuanya setelah selama dua minggu lenyap berada di kampung halaman.
Aku kembali meraih keramahan bu kos.
Aku kembali mendapatkan senyuman dan sapa hangat teman-teman kos.
Aku mendapat sapaan warga yang seolah merindukanku untuk kembali bercengkrama bersama mereka.
Ya, kenyamananku berada di rantau kembali aku dapatkan.
Mereka semua membuatku tenang.
Aku berharap romatisme ini akan selalu hidup, karena mereka obatku. Obat yang berangsur-angsur membuat kesedihan yang belum lama aku alami menjadi berkurang.
YA aku harus bisa melupakannya. Hidup harus berjalan terus.
Ini keputusan yang telah aku ambil. Kini aku harus menjalani semua resikonya.
Aku harus kembali bangkit! Apalagi Yudisium telah menanti didepan mata. Sebentar lagi.
Bu kos adalah salah satu kehidupanku di kota rantau ini. Sikap bu kos semakin berubah setelah aku mencoba mengabdikan diri dengan total sebagai anak kosnya. Total dalam membantu beliau membersihkan kamar mandi yang biasanya terlihat jorok. Terlebih lagi kamar mandi yang hanya ada satu ruang itu dipakai oleh lebih dari tujuh orang yang berasal dari etnis yang berbeda-beda.
Dan totalitas semuanya, sebagai anak kos yang baik tentunya.
Selain bu kos, aku masih memiliki teman-teman dari berbagai wilayah yang sangat ramah. Berada di kos ini aku dapat berteman dengan orang dari Jogja, Flores, Ternate, Bali, hingga Sumba. Karakter mereka berbeda-beda, mulai dari pemalu hingga yang suka blak-blakan.
Mereka telah menjadi alarm bagiku yang selalu setia mengingatkanku untuk beribadah. Kalian tahu, mereka berbeda agama denganku. Mungkin mereka tidak belajar secara mendalam apa yang disebut dengan toleransi, tetapi mereka mampu menerapkannya dalam tindak nyata secara sempurna.
Hari ini aku kembali memperoleh atmosfer itu. Aku memperoleh lagi semuanya setelah selama dua minggu lenyap berada di kampung halaman.
Aku kembali meraih keramahan bu kos.
Aku kembali mendapatkan senyuman dan sapa hangat teman-teman kos.
Aku mendapat sapaan warga yang seolah merindukanku untuk kembali bercengkrama bersama mereka.
Ya, kenyamananku berada di rantau kembali aku dapatkan.
Mereka semua membuatku tenang.
Aku berharap romatisme ini akan selalu hidup, karena mereka obatku. Obat yang berangsur-angsur membuat kesedihan yang belum lama aku alami menjadi berkurang.
YA aku harus bisa melupakannya. Hidup harus berjalan terus.
Ini keputusan yang telah aku ambil. Kini aku harus menjalani semua resikonya.
Aku harus kembali bangkit! Apalagi Yudisium telah menanti didepan mata. Sebentar lagi.
Komentar
Posting Komentar